Sumpah Pemuda
Kenapa pengakuan satu bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia disebut sebagai sumpah pemuda, suer saya tidak terlalu tahu, kecuali membaca sejarah bahwa ucapan itu keluar dari suatu konggres pemuda tahun 1928. Tahun ini juga muncul sumpah pemuda 2007 yang mencetuskan kaum muda tampil jadi pemimpin.
Ketika pertama kali mendengar, saatnya kaum muda memimpin, yang terbayangkan bukan karakter kaum mudanya, tapi karakter pemimpinnya. Atas prestasi apa kaum muda mau jadi pemimpin, dan siapa yang harus dipimpin?. Masih gelap, bahkan ini lebih gelap dari pemilu. Apa ini ungkapan dari ketidak berdayaan kaum muda?. Mungkin jawabannya tidak, karena kaum muda lebih agresif dan memiliki darah segar. Atau ini ungkapan rasa jengkel terhadap negeri ini?. Mungkin juga tidak, karena terlalu banyak orang yang jengkel yang tidak bisa dipilah stratanya.
Tapi sumpah pemuda 2007 sudah menjadi catatan dihari 28 Oktober 2007, apapun bentuk, motivasi dan skalanya. Ini mungkin bisa menjadi setitik harapan akan muncul pemimpin masa depan. Tapi kita juga mungkin menjadi pesimis, ketika melihat para pemuda hanya bersatu ketika mereka tidak memimpin dan menjadi musuh ketika masing-masing kelompok pemuda itu memiliki kekuasaan.
Dari ungkapan “saatnya kaum muda memimpin“, terlihat adanya gelora semangat untuk menunjukkan kekuatannya dan terasa meremehkan yang lain. Saatnya, membuktikan motivasi apa yang mendasari keinginan untuk memimpin, bukan merubah.
Motivasi untuk Maju
Kita sering mendengar kalau bangsa Indonesia termasuk bangsa yang terbelakang. Saya tidak tahu apakah pernyataan tersebut benar atau tidak. Tetapi marilah kita perhatikan keadaan sekeliling kita, kemudian bertanya apakah kita layak menyandang bangsa yang maju?
Mari kita tengok perjalanan rutin dari rumah ke kantor. Ketika kita membuka pintu pagar, kita bertemu dengan tetangga kita, sudahkah kita mengucapkan salam, apa kabar, dan saling mendo’akan? Pernahkan kita dengan tulus mengucapkan saya senang bertemu Anda hari ini, semoga hari ini menjadi hari yang sukses untuk Anda?. Kalaupun belum sepenuhnya tulus, lantas berapa % kita menilai ketulusan kita pagi ini?.
Ketika kita masuk mobil, adakah perasaan bahwa mobil kita cukup bagus untuk saya, sedangkan mobil tetangga agak butut, sehingga dengan bangga kita duduk di belakang setir? Apa yang kita lakukan dengan perasaan ini? Kita juga cukup yakin bahwa mesin mobil masih dalam kondisi baik. Apa yang kita perbuat dengan kondisi ini?.
Ketika kita melewati jalan sekitar kompleks, mungkin kita masih melihat tumpukan daun yang semalam jatuh, masih berserakan di jalan yang kita lalui. Barangkali kita sempat mengumpat atau bergumam, kok malas orang membersihkan jalan ini. Dan ketika mobil kita sudah berada di jalan raya yang padat dengan mobil lainnya, adakah terbersit bahwa saya berhak berjalan lebih cepat dari lainnya? Barangkali orang juga akan tidak mau tahu siapa diri kita ini?.
Ketika mobil sudah sampai di kantor, adakah terbersit bahwa saya berhak mendapat tempat parkir yang baik, orang lain harus memberi kesempatan pada saya untuk mendapatkan parkir yang istimewah, dan ketika hal itu tidak terjadi, apakah kita dongkol, memaki petugas parkir tidak becus, mengumpat harusnya kantor menyediakan tempat parkir yang luas?.
Ketika kita masuk ke kantor, adakah terbersit bahwa Allah sudah menunggu di meja kita dan mengawasi pekerjaan kita? Apa yang harus kita kerjakan pagi ini, tidak ada ??? Wow, kenapa kita datang ke kantor dengan segala atributnya hanya untuk memastikan bahwa tidak ada pekerjaan ?. Wow…..
Karakter tersebut, adalah karakter orang yang pasif, lingkungan disekeliling kita yang harus merubah menyesuaikan dengan keinginan kita. Padahal Allah sudah menciptakan masalah-masalah yang memerlukan campur tangan kita, memerlukan kerja cerdas kita. Apakah kita malu? Benarkah bahwa kita memang bukan orang yang ingin maju.
Saat ini, mulai dengan langkah pertama. Tukang batu tidak akan bisa membangun gedung yang tinggi, jika tidak dimulai dengan peletakan batu pertama yang tidak kelihatan maknanya.
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Februari 2009 (2)
- Oktober 2008 (1)
- Agustus 2008 (1)
- Juni 2008 (1)
- Mei 2008 (3)
- April 2008 (4)
- Maret 2008 (2)
- Februari 2008 (1)
- Januari 2008 (3)
- Desember 2007 (1)
- November 2007 (1)
- Oktober 2007 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS