B.L.O.G. kang aGu5

…. berbuat untuk beribadah …

hari raya 2 hari

Seperti biasa, tahun ini 2007 kembali Iedul Adha dirayakan pada 19 dan 20 Desember 2007. Walaupun pemerintah dan sebagian besar ormas Islam - kecuali DDII- menetapkan tanggal 20 Desember 2007 sebagai hari raya Iedul Adha, namun banyak masyarakat yang tetap merayakan Iedul Adha pada 19 Desember, walaupun bukan anggota atau simpatisan ormas DDII. Ini karena pemahaman yang sama dengan yang dikemukan ormas tersebut, yaitu iedul adha mengacu pada Arab Saudi - utamanya waktu wukuf di Arafah.

Yang jadi masalah, kita di Indonesia ini sudah terbiasa tidak sama dengan pemerintah. Juga tidak taat juga pada ormas-ormas Islam. Apakah kita ini?. Ya, masalah perbedaan dikembalikan kepada masing-masing. Alasan utama, dalil penetapan iedul adha pada 19 atau 20 Desember sama-sama kuatnya.

Lalu, apakah kita ber hari raya selama 2 hari?. Mungkin kita tidak akan mengatakan demikian, tapi dengan mengakui penetapan hari raya sama-sama benarnya, berarti kita sudah menyatakan hari raya selama 2 hari.  Bingung ????

Jadi, puasanya kapan ?, sholat iednya kapan??, meuncit domba  qurban iraha??

Desember 19, 2007 - Ditulis oleh agusfikri | Uncategorized | , , | 1 Komentar

1 Komentar »

  1. Gus pernyataan dan pertanyaan kamu tentang idul Adha menarik, saya jadi ingin nimbrung!
    “Yang jadi masalah, kita di Indonesia ini sudah terbiasa tidak sama dengan pemerintah. Juga tidak taat juga pada ormas-ormas Islam.”
    Kebiasaan tidak taat dengan pemerintah apalagi ORMAS Islam?………..Why should we? Memang dalam beragama, yang wajib kita taati adalah : ALLAH, RASUL DAN ULIL AMRI (ORANG YANG MENGERTI SUATU PERKARA) seperti disebutkan dalam QS 4:59 “ Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
    Benar memang pemerintah yang dalam hal ini dibantu oleh ahlinya (ulil amri) mestinya patut kita taati! Tetapi jika kita berselisih pendapat seharusnya kita kembalikan ke Quran dan sunnah rasul. Bagaimana suatu ritual agama yang berpusat di Arafah (yang dalam hal ini tentunya sesuai dengan sunnah rasul) bisa kita anulir dengan pendapat ulil amri kita! Apakah kita tidak bisa memusatkannya dengan berkiblat ke pusatnya?

    Apakah kita ini?

    Kita ini adalah umat muslim yang masih terkotak-kotak, yang lebih memikirkan perbedaan pendapat daripada bagaimana caranya agar umat muslim di seluruh dunia bersatu. Negara maju sudah bisa menghitung kapan terjadi gerhana dan di mana sampai lamanya gerhana bahkan sampai ke detiknya! Estimasi jarak antar planet, bahkan estimasi kapan suatu planet kiamat atau baru lahir hanya dengan melihat spektrum warna! Kita masih engkel-engkelan metode hisab ataukan ru’yah yang paling sip…untuk menentukan bulan baru terbit.
    Tidak bisa dipungkiri, rasulullah adalah uswatun khasanah…dulu beliau sering melihat hilal sebagai penentu tetapi nggak melarang metode hisab. Mukjizat al Quran yang demikian dahsyat mencakup seluruh ilmu pengetahuan hanya dianggap remeh dan angin lalu…jarang dikaji kehebatannya. Bagi umat muslim al Quran lebih dipandang keramat ‘bendanya dan huruf-hurufnya’ daripada hakikat dan maknanya… Jangankan dikaji…dibaca atau dipegang orang yang sedang berhaid, junub, bahkan kentut saja tidak boleh! (bagi sebagian umat muslim)… Eh jadi ngelantur, kembali ke masalah dua hari raya….

    Ya, masalah perbedaan dikembalikan kepada masing-masing. Alasan utama, dalil penetapan iedul adha pada 19 atau 20 Desember sama-sama kuatnya…..

    I Agree, but….tidak bisakah kita umat muslim seluruh dunia bersatu. Bumi ini satu bulat…mestinya hilal terbit satu kali dalam sebulan (mana mungkin sih yang namanya tanggal satu dua kali)….Tidak adakah cara yang canggih seperti negara maju yang bisa menentukan gerhana 10 tahun yang akan datang dengan akurat? Ada! hanya umat muslim senengnya engkel-engkel dan mau benar sendiri daripada bersatu melawan kekufuran!
    Panteslah kalau ada yang menyatakan kafiriin bisa tidur aman, dan mabuk karena sangat memandang remeh umat muslim selama jumlah jamaah sholat isya dan subuh belum bisa menyamai jamah sholat jum’ah…Lho apa hubungannya? Hubungannya karena kita ini sangat memandang rendah kekuatan kebersatuan umat…yang tentunya dimulai dengan sholat berjamaah! Padahal begitu banyak hadist rasululllah yang menyatakan pentingnya sholat berjamaah (especially for isha and subuh) …bagi kaum laki-laki!
    Lalu, apakah kita ber hari raya selama 2 hari?. Mungkin kita tidak akan mengatakan demikian, tapi dengan mengakui penetapan hari raya sama-sama benarnya, berarti kita sudah menyatakan hari raya selama 2 hari. Ah ya nggak, pastinya yang sholat Id Rabu mengakui hari raya Rabu sedang yang Kamis juga demikian.

    Bingung ????Ndak perlu bingung…..yang penting bagaimana kita bersatu melawan kefakiran dan kekafiran!

    Jadi, puasanya kapan ?, sholat iednya kapan??, meuncit domba qurban iraha??
    Its all up to you…(depending when you celebrate Idul Adha, Qurban for me is more than how we are empathy to others and saatnya kita meuncit ego kita untuk umat)
    Ini pendapat pribadi. Finally…everything we do is seeking for ridho ALLAH, so ALLAH knows best what inside our heart.
    Salam,

    Komentar oleh aljauri | Januari 15, 2008

Tinggalkan komentar