malam tahajjud
sungguh malam ini adalah malam yang terakhir,
besok aku akan pergi
tinggalkan rumah ini
agar tak berat beban yang ada di hati
sungguh perasaan ini selalu datang tiap malam
malam ini adalah malam yang kesekian kali aku rasakan
tapi tak juga kudapati malam yang terakhir
tapi juga tak kujumpai malam yang kemarin
hujan di luar kudengar bagaikan alunan petikan kecapi
suara katak seakan bertasbih mengiringi kematian
lampu kristal bergoyang mengeluarkan suara gemerincing
sebentar lagi larut malam akan sampai
dingin malam dan basahnya terpaan angin
mengiringi langkahku ke arah cucuran air
kubasuh mukaku
kuingin bersujud dihadapanMU
Ya Rabbi,
Tuhan yang menguasai nafsu ini
Betapa serakah aku, terlalu banyak mauku
belum ada yang kuperbuat untuk yang lain
badan sudah letih dan layu
Besok aku akan pergi
ke suatu tempat yang sangat jauh
apakah bekal sudah penuh
tak tahu, apa yang nanti terjadi
jarum jam belum juga beranjak
kuangkat muka menengadah ke langit
mengharap ada ilham dan kedamaian
dan curahan rahmat dilubuk hati
malam ini malam terakhir,
malam yang mulia
malam yang tak kembali
malam-malam dimana hati gelisah
bandung-april 2008
aku dan istriku
Seperti keluarga yang lain, aku dan istriku tinggal di rumah yang menjadi sorga bagi kami berdua, anak-anak, keponakan, pembantu dan Saudara-saudaraku. Di rumah itu banyak kegiatan, ada masak, nyuci, nyapu, ngepel, berkebun, bersihkan mobil, membaca, main piano, dengerin musik, nonton tivi dan ribuan atau bahkan jutaan jenis kegiatan lagi. Itulah gambaran sorga di rumah. Dan ternyata …. kemudian aku rasakan bahwa sorga itu bukanlah kata benda, tetapi kata sifat.
Tinggal di rumah yang mempunyai sifat sorga, penghuninya akan merasa tentram, nyaman, aman , enjoy, bebas berkreasi dan berbagai kenikmatan lainnya. Begitupun aku dan istriku, apa yang kurasakan bagaikan tinggal di sorga. Di rumah ini, aku bisa chatting, bisa ngurus bunga, dengerin musik dan seribu kegiatan lainnya – the place and the time to refresh !!!
Sebenarnya bukan itu saja yang membuat aku merasa di sorga. Aku dan istriku sering dijadikan contoh bagi orang lain, tetangga, saudara, ponakan dan sebagainya.
Setidaknya sudah dua orang ponakanku yang merefer kepada aku untuk menentukan calon suami. Ingin hidup seperti Om dan Tante …katanya.
Ada lagi kisah tentang perjalanan haji. Selama ini orang di tempat tinggalku, kalau mau berangkat haji selalu mengadakan selamatan besar-besaran, layaknya orang mau mantu. Tapi aku dan istriku berpendapat lain, berangkat haji cukup ngadakan pengajian seperti pengajian rutin yang diselenggarakan di RT-ku. Wah rupanya responnya banyak, dan ini malah dijadikan model bagi yang akan berangkat haji para tetanggaku.
Lain lagi dengan saudara-sauadaraku, mereka memandang aku adalah keluarga yang serba berkecukupan, tak pernah susah, segala impian menjadi kenyataan. Alhamdulillah, ya Allah, kenikmatan ini semua adalah karunia dari Engkau ya Allah.
>>>>>buat istriku yang setia mendampingiku dalam kehidupan yang penuh perjuangan,…>>> terima kasih yang tak terhingga, semoga pengorbananmu mendapat balasan dari Allah SWT dengan sorga jannatun na’im.. Amin
Pemimpin
Sore ini, ketika aku pulang kantor, kudengar di radio sedang diadakan diskusi tentang PILKADA. Memang di Jabar saat ini sedang dilakukan proses pemilihan Gubernur. Ada tiga calon Gubernur yang akan dipilih. Persoalan yang mengemuka adalah, kenapa Gubernur tersebut mau mengajukan diri untuk dipilih menjadi Pemimpin.
Tidak seperti biasanya, aku begitu trenyuh mendengar pembicaraan tersebut. Ya,kenapa pemimpin di negeri ini harusmengajukan diri untuk dipilih. Bukankah Islam melarang untuk ‘pamer’ agar dipilih menjadi pemimpin. PILKADA inimalah mengharuskan calon pemimpin mengumbar janji, menarik simpati, menonjolkan diri. Dunia apa ini.
Set back, kemudian sepanjang pembicaraan tersebut, air mataku terus mengalir. Tak kuasa aku membendung kesedihan ini. Ya, kenapa pemimpin harusmenonjolkan diri, ini kesalahan kolekstif yang jauh dari islami. Kesedihanku semakin dalam,ketika kuingat diriku.Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Aku seorang kepala rumah tangga. Apakah saat ini aku sudah menjadi pemimpin?
Aku bersyukur pada Allah, bahwa aku mempunyai istri yang saat ini menjadi pendamping hidupku. Aku menikah dengannya dengan pinangan yang islami. Alhamdulillah, aku dihindarkan dari rasa dan nafsu angkara.
Kemudian aku berandai-andai, dalam perjalanan hidup ini, mungkin aku ditakdirkan menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anakku. Seandainya istriku bukan yang sekarang,mungkin aku tidakbisa menjadi pemimpin. Aku coba mengukur diriku, mungkin aku terlalu mencintai seseorang, tetapi mungkin Allah lebih tahu tentang diriku, aku tak mungkin menjadi pemimpin baginya.Mungkin aku terlalu lemah,terlalu mencintai dan akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.
sebuah renungan … mencari pendamping hidup…
– MBF : ty (soulmate?), she, hw, sn ..
senyum
Kisah tentang senyum ternyata tidak terlepas dari peradaban manusia.
Monalisa, sebuah lukisan yang membuat orang kagum dengan pelukisnya.
Senyuman Roro Jonggrang yang membuat patung tersebut terpaksa diamputasi.
Senyum adalah sodaqoh, demikian Rasulullah bersabda.
Hari ini, tak kusangka aku mendapati sebuah senyum yang membuat dadaku berdebar. Mungkin dulu aku pernah mengaguminya, tapi kemudian lupa karena termakan zaman dan peradaban manusia.
Tak ada kata yang lebih Indah : Alhamdulillah…
Apakah ini sorga ??
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Februari 2009 (2)
- Oktober 2008 (1)
- Agustus 2008 (1)
- Juni 2008 (1)
- Mei 2008 (3)
- April 2008 (4)
- Maret 2008 (2)
- Februari 2008 (1)
- Januari 2008 (3)
- Desember 2007 (1)
- November 2007 (1)
- Oktober 2007 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS