sebuah ibrah
Semalam aku melayat seorang sahabat yang meninggal dunia karena penyakit leukemia yang sudah dideritanya entah berapa lama. Begitupun dengan sikapnya yang masih setia tidak menikah, hingga kematiannya merupakan sikap yang mengharukan. Apakah ini sebuah idealisme ataukah pasrah pada takdir Ilahi.
Aku sempat termenung begitu mendengar kematiannya, segera aku ke ruang mayat di sebuah rumah sakit. Sudah banyak pelayat yang datang, dan akupun sempat melihat wajahnya yang putih pucat, sebuah tanda kematian dan kepasrahan selama hidup.
Pertama kali aku kenal dia tahun 1980 ketika sama-sama menginjakkan kaki di Kampus Telkom, dan persahabatanku semakin intim, ketika aku menjabat sebagai ketua organisasi kampus dan dia menjadi sekretaris. Puncaknya adalah sepucuk surat yang kuterima sebagai ungkapan hati kala itu. Apakah ada sebuah idealisme ataukah sebuah harapan, bahwa takdir hendak kurobah. Walaupun keakrabanku dengan dia sebuah sejarah, dan sepucuk surat itupun tidak pernah kubalas, hari ini patut kumerenung dan patut pula aku bersedih.
Hari ini, mungkin sebuah penantian panjang bagi dia akan sebuah cita-cita yang dipendamnya. Sikapnya yang periang dan supel telah menghapuskan masa-masa lalu, dia begitu akrab dengan istriku, begitu manja ketika bercerita masa lalu. Dan seakan tidak pernah ada derita yang dirasakan, lahir maupun batin.
Selamat jalan sahabatku,semoga Allah menerima segala amal baikmu.
bandung, 30 Juni 2008
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Februari 2009 (2)
- Oktober 2008 (1)
- Agustus 2008 (1)
- Juni 2008 (1)
- Mei 2008 (3)
- April 2008 (4)
- Maret 2008 (2)
- Februari 2008 (1)
- Januari 2008 (3)
- Desember 2007 (1)
- November 2007 (1)
- Oktober 2007 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS